Penggunaan Herbal di bidang Kedokteran

Posted by Muchamad Sujarwanto Senin, 24 Desember 2012 0 komentar


Penggunaan Herbal di bidang Kedokteran 
penggunaan herbal di bidang kedokteran

Pada kesempatan ini, herbal sehat dan halal akan memaparkan salah satu tulisan karya ilmiah yang membahas tentang Penggunaan Herbal di bidang Kedokteran, khusunya bidang Kedokteran Gigi. Berikut rangkumannya:

Penggunaan bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain cenderung meningkat, terlebih dengan adanya semangat back to nature (kembali ke alam). Penggunaan herbal dipakai dalam upaya preventif (pencegahan), promotif (penyuluhan), dan rehabilitatif (perawatan). Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Sudarsono Apt, menyatakan bahwa obat-obatan herbal memang sangat diminati oleh masyarakat saat ini dan berdasarkan penglalam obat-obatan tersebut terbukti berkhasiat. Kecenderungan peningkatan penggunaan herbal untuk pengobatan tidak lagi didasarkan atas pengalaman turun temurun tetapi dengan dukungan dasar ilmiah. Sekarang ini ada 3 jenis  sediaan herbal untuk pengobatan yaitu: 

  1. Jamu, yang masih dipercaya secara empiris (ilmiah).
  2. Simplisia, yaitu bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apa pun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan. (Depkes RI).
  3. Herbal terstandar, yaitu yang dibuat oleh industri dan telah teruji secara klinis untuk manusia. (Badan POM).
Satu hal yang perlu diperhatikan mengenai hal ini adalah kualitas pada obat-obatan herbal itu sendiri. Menghasilkan obat herbal yang berkualitas baik diperlukan proses pembuatan yang baik pula. Salah satu proses terpenting dalam penggunaan herbal adalah pemilihan bahan baku yang tepat dan ditunjang oleh penelitian serius. Selain itu, proses ekstraksi, pemurnian dan pengemasan harus higienis.
Informasi yang diperoleh tentang kandungan zat aktif dalam herbal bersifat setara dengan obat modern. Berdasarkan kandungan kimia dan membandingkan dengan zat yang berkhasiat anti bakteri maupun antiinflamasi pada obat modern, bisa digunakan untuk menentukan khasiat herbal tersebut.
Penelitian daya antibakteri herbal terbanyak dilakukan di indonesia seperti telah dilaporkan dalam tulisan “tanaman obat bersifat antibakteri di Indonesia” baru sebanyak 106 jenis tanaman telah diteliti dan masih banyak yang belum diuji. Beberapa herbal yang telah digunakan di bidang Kedokteran Gigi diantaranya adalah:

  1. Golongan Analgetika; herbal untuk meringankan rasa nyeri tanpa hilangnya kesadaran. Diantaranya: cengkeh, sambiloto, jahe, sereh, sidaguri, kecubung.
  2. Golongan Anti inflamasi; herbal untuk mengatasi peradangan. Diantaranya: mengkudu, sambiloto, jahe, sambung nyawa, sereh, belimbing wuluh.
  3. Golongan Antibakteria; herbal untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Diantaranya: kemukus, mimba, sambiloto, kunyit, bawang putih.
  4. Golongan Anti jamur; herbal untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan jamur. Diantaranya: lidah buaya, jambu mete.
  5. Golongan Ekspektoransia; herbal untuk melancarkan dahak pada batuk. Diantaranya: jahe, kunyit.
  6. Golongan Anti plaque; herbal untuk mengurangi plak gigi. Diantaranya: daun suji, siwak.
  7. Golongan Anti odor; herbal untuk mengurangi bau mulut. Diantaranya: beluntas, sirih.
Kelebihan obat herbal dibandingkan obat modern

  1. Efek sampingnya relatif rendah.
  2. Dalam suatu ramuan dengan komponen berbeda memiliki efek saling mendukung.
  3. Pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi serta lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif.
Hal yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Ketepatan takaran/dosis. Harus berhati-hati pada dosis berlebih.
  2. Ketepatan waktu penggunaan.
  3. Ketepatan cara penggunaan.
  4. Ketepatan pemilihan bahan secara benar.
  5. Ketepatan pemilihan herbal untuk indikasi tertentu.
Segi efek samping memang diakui bahwa obat alam/herbal memiliki efek samping yang relatif kecil dibandingkan obat modern, tetapi perlu diperhatikan bila ditinjau dari kepastian bahan aktif dan konsistensinya yang belum dijamin terutama untuk penggunaan secara rutin.
Efek Farmakologis yang lemah dan lambat dikarenakan rendahnya kadar senyawa aktif dalam bahan obat alam serta kompleksitas zat balast (lawan dari senyawa aktif) yang umum terdapat pada tanaman. Hal ini sebenarnya bisa diupayakan dengan melakukan ekstrak terpurifikasi, yang menghasilkan ekstraksi selektif, yaitu hanya menyari senyawa yang manjur dan membatasi sekecil mungkin zat balast yang ikut tersari.
Penggunaan herbal untuk kepentingan peningkatan kesehatan sangat mendukung program pemerintah dalam program kesehatan primer, kemandirian kesehatan masyarakat, membuat masyarakat sehat dan tidak terikat kepada import bahan-bahan baku obat modern. 

Kesimpulan

  1. Pemakaian herbal dianjurkan sesuai dengan takaran, ketepatan waktu pemakaian, ketepatan cara penggunaan serta pemilihan herbal sesuai dengan indikasi.
  2. Prospektif untuk masa yang akan datang dalam pemakaian herbal untuk kesehatan, mengingat rendahnya efek samping dan nilainya yang lebih ekonomis.
(Sumber pustaka: PENGGUNAAN HERBAL DI BIDANG KEDOKTERAN GIGI, oleh Harsini, Widjijono, Bagian ilmu Biomaterial Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada --- (dengan sedikit gubahan-Redaksi))
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Penggunaan Herbal di bidang Kedokteran
Ditulis oleh Muchamad Sujarwanto
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://newherbalsehatdanhalal.blogspot.com/2012/12/penggunaan-herbal-di-bidang-kedokteran.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Original design by Bamz | Copyright of New Herbal Sehat dan Halal.